Tamba Waras Kutus Kutus Bali

Tamba Waras

Jl. Dharma Giri No 88, Desa Bona, Gianyar, Bali

Tamba Waras adalah Produsen Minyak Kutus Kutus Bali, Sabun dan Minyak Tanamu Tanami, Sabun Kalila-Kalila, yang berdiri sejak taun 2012 dan ditemukan oleh Bapak Servasius Bambang Pranoto.

Kata Tambawaras berasal dari kata Tamba dan Waras. Tamba yang berarti Obat, sedangkan Waras artinya Normal kembali. Produk yang dihasilkan oleh Tamba Waras diharapkan dapat menjadi alat manisfestasi-Nya berupa Obat yang mendatangkan Kesembuhan, Kesehatan dan Kesejahteraan untuk semua penggunanya.

Semua produk Tamba Waras menggunakan paduan tradisional unsur jamu herbal yang 100% alami dan tidak ada bahan kimia, yang diramu dengan minyak essensial dengan menggunakan molekul air lebih kecil sehingga tubuh dapat lebih mudah menyerap melalui sel kulit.

Gianyar sebagai Pusat Produksi Tamba Waras

Tambawaras terletak di Desa Bona, Kabupaten Gianyar, Bali. Bukan suatu kebetulan, Departemen Kesehatan pada tahun 2013 menobatkan Gianyar sebagai kabupaten tersehat se-Indonesia.

Dinobatkan sebagai daerah dengan pembangunan kesehatan terbaik sungguh membanggakan. Apalagi penobatan didasarkan pada analisa berbasis data.
Prestasi ini layak di bagi sebagai wahana pembelajaran bagi daerah lainnya.

Menyimpan berjuta pesona, pulau dewata bali dikenal sebagai pulau tujuan wisata yang terkenal hingga mancanegara.
Namun mungkin tak banyak yang tahu pembangunan kesehatan di pulau ini juga berjalan dengan sangat baik.
Terbukti dari Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) 2013 yang merupakan analisis dari hasil Riset Kesehatan Dasar(Riskesdas) 2013, empat dari sembilan kabupaten/kota yang ada di Bali termasuk dalam sepuluh peringkat terbaik secara nasional.

 

Belajar dari Tambawaras Gianyar Bali

Dalam IPKM 2013 tiap kabupaten/kota dapat mengetahui posisinya dibanding kabupaten/kota lainnya baik secara nasional maupun dalam provinsi. Posisi ini terinci di tiap indikator, yang dikelompokkan dalam tujuh kumpulan indikator yaitu kesehatan balita, kesehatan reproduksi, pelayanan kesehatan, perilaku, penyakit tidak menular, penyakit menular dan kesehatan lingkungan.

Dari indikator tersebut, beberapa indikator dicapai dengan sangat baik oleh Gianyar. Bahkan dalam pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas layanan kesehatan, Gianyar boleh berbangga dengan skor sempurna. Ternyata kondisi ini didunkung dengan sebaran merata bidan sebagai ujung tombak program kesehatan ibu dan anak. Buku Profil Kesehatan Kabupaten Gianyar 2014 mengungkap, dari 350 bidan di Gianyar, lebih dari separuhnya bertugas di unit pelayanan terdepan.

Masih pada kelompok indikator pelayanan kesehatan, indikator lain yang dicapai dengan baik adalah proporsi desa dengan kecukupan posyandu, cakupan kepemilikan Jaminan Pelayanan Kesehatan, dan perilaku buang air besar dengan benar. Ini menunjukkan tingginya konsentrasi pemerintah setempat dalam penyediaan fasilitas layanan kesehatan. Gianyar telah menyediakan 13 puskesmas pusat, 65 puskesmas Pembantu, 13 puskesmas keliling, 565 Posyandu dan lima rumah sakit yang berkapasitas 552 tempat tidur(Satu Rumah Sakit Pemerintah, dan Empat Rumah Sakit Swasta). Selain itu, capaian yang baik juga terlihat pada indikator cakupan air bersih, cakupan kunjungan neonatal, serta rasio dokter dan bidan per puskesmas. Posisi capaian pada indikator-indikator tersebut berada di atas rata-rata nasional.

IPKM sebagai positioning kinerja

Meraih peringkat teratas nasional adalah sebuah prestasi. Namun bagi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar, ini sudah menjadi tuntutan bagi public health worker. “Seorang public health worker harus tahu apa pekerjaannya, tahu apa yang harus dikerjakan, tahu alat ukur pekerjaannya, dan tahu bahwa pembangunan kesehatan tidak bisa dikerjakan sendiri.”

Menurutnya, IPKM adalah penyempurnaan akan indikator yang bisa menggambarkan kerja insan kesehatan. Alat ukur ini bermanfaat untuk tahu dimana posisi pembangunan kesehatan di suatu kabupaten/kota dibandingkan kabupaten/kota lainnya.